BLOG ORANG GANTENG

Rabu, 03 November 2010

propsal KIAT GURU MENGAJAR DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN DAN KREATIVITAS BELAJAR SISWA KELAS VI

KIAT GURU MENGAJAR DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN DAN KREATIVITAS BELAJAR SISWA KELAS VI

DI SD 08 SELATPANJANG

OLEH : adji


A. Latarbelakang Masalah

Pada saat dilahirkan tidak ada anak yang langsung ‘dewasa’ namun diperlukan suatu proses belajar. Belajar harus dilakukan secara berkesinambungan.

Berkaitan dengan belajar, ada sementara orang yang beranggapan bahwa belajar sama dengan menghapal atau membaca. Padahal sesungguhnya belajar itu lebih luas dari sekedar menghapal. Menghapal hanya bagian dari kegiatan belajar. “Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan individu (manusia) untuk memperoleh perubahan tingkah laku

Kemampuan berpikir merupakan ranah kognitif yang meliputi kemampuan menghapal, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.

Kemampuan psikomotor, yaitu keterampilan yang berkaitan dengan gerak, menggunakan otot seperti lari, melompat, menari, melukis, berbicara, membongkar dan memasang peralatan, dan sebagainya. [1]

Kemampuan afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berbentuk tanggung jawab, kerjasama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri. Semua kemampuan ini harus menjadi bagian dari tujuan pembelajaran di sekolah, yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran yang tepat.[2]

Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat. Untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang. Pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terprogram dalam bentuk pendidikan formal dan non formal dan non informal di sekolah, dan diluar sekolah, yang berlangsung seumur hidup yang bertujuan optimalisasi pertimbangan kemampuan-kemampuan individu, agar dikemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara tepat.

Menurut Poerbakawatja dan Harahap (1981) “pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak kekedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moral dari segala perbuatanya. Orang dewasa itu adalah orang tua sianak atau orang yang atas dasar tugas dan kedudukannya mempunyai kewajiban untuk mendidik, misalnya : guru sekolah pendeta atau kiai dalam lingkungan keagamaan, kepala-kepala asrama, dan sebagainya. [3]

Dalam perkembangan proses kedewasaan tersebut, tidak samua tugas pendidikan dapat dilakukan oleh orang tua dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam ilmu pengetahuan yang lainnya. Oleh karena itu orang tua mengirim anak-anaknya ke sekolah untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan

Dapat kita mengerti betapa pentingnya proses mendidik anak dalam lingkungan. Proses pendidikan itu dapat tercapai apabila tercipta harmonisasi antara orang tua dengan guru sebagai pendidik di sekolah.

Belajar mengajar sebagai suatu sistem instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Sebagai suatu sistem belajar mengajar meliputi sejumlah komponen antara lain tujuan pelajaran, bahan ajar, siswa yang menerima pelayanan belajar, guru, metode dan pendekatan, situasi, dan evaluasi kemajuan belajar.

Agar tujuan itu dapat tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan dengan baik sehingga sesama komponen itu terjadi kerjasama. Secara khusus dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai pengajar, pembimbing, perantara sekolah dengan masyarakat, administrator dan lain-lain. Untuk itu wajar bila guru memahami dengan segenap aspek pribadi anak didik seperti: kecerdasan dan bakat khusus, prestasi sejak permulaan sekolah, perkembangan jasmani dan kesehatan, sikap dan minat belajar, cita-cita, kebiasaan belajar dan bekerja, hobi dan penggunaan waktu senggang, hubungan

sosial di sekolah dan di rumah, latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal, dan sifat-sifat khusus dan kesulitan belajar anak didik.

Pendidikan formal dilaksanakan dalam semesta pendidikan nasional. Menurut TAP MPR No. II/MPR/1988, Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila, bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta pada tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu dikembangkan iklim belajar dan mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri sendiri serta sikap dan perilaku yang inovatif dan kreatif. [4]

Dalam interaksi edukatif siswa menjalankan tugas dan peran masing-masing. Guru sebagai salah satu sumber belajar dan yang mengorganisir, memfasilitasi, serta memotifasi kegiatan belajar yang dilakukan siswa. Sedangkan siswa melakukan aktivitas belajar dan memperoleh pengalaman belajar yang ditandai adanya perubahan tingkah laku baik kognitif, efektif maupun psikologi dengan bantuan dan bimbingan dari guru.

Tugas dan tangung jawab guru sebagai pendidik adalah membantu dan membimbing siswa mencapai kedewasaan seluruh ranah kejiwaan sesuai kreteria yang telah ditetapkan , baik kreteria institusional maupun konstitusional. Untuk dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya itu, guru berkewajiban merealisasikan upaya yang mengarah kepada pengertian membantu dan membimbing siswa dalam melapangkan jalan menuju perubahan positif seluruh ranah kejiwaannya. Dalam hal ini, kegiatan nyata yang paling utama dalam memberi bantuan dan bimbingan itu adalah mengajar. [5]

Seorang pendidik tidak dituntut untuk mencetak anak didiknya menjadi orang ini dan itu, tetapi cukup dengan menumbuhkan dan mengembangkan potensi dasar serta kecenderungan-kecenderungannya terhadap sesuatu yang diminati sesuai dengan kemampuan dan bakat yang tersedia.

Apabila anak mempunyai sifat dasar yang dipandang sebagai pembawaan jahat, upaya pendidikan diarahkan dan difokuskan untuk menghilangkan serta menggantikan atau setidak-tidaknya mengurangi elemen-elemen kejahatan tersebut. Bagi teori “Lorenz” yang membangun pembawaan agresi manusia sejak lahir, perhatian pendidikan diarahkan untuk mencapai objek-objek pengganti dan prosedur-prosedur sublimasi yang akan membantu menghilangkan sifat-sifat agresi ini. Jelasnya, seorang pendidik tidak perlu sibuk menghilangkan dan menggantikan kejahatan yang telah dibawa anak didik sejak lahir, melainkan berikhtiar sebaik-baiknya untuk menjauhkan timbulnya pelajaran yang dapat menyebabkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik.

Ali Syari’ati menawarkan lima factor yang secara kontinu dan simultan membangun personalitas anak didik, yaitu:

  1. Faktor ibu yang memberi struktur dan dimensi kerohanian yang penuh dengan kasih sayang dan kelembutan.
  2. Faktor ayah yang memberikan dimensi kekuatan dan harga diri.
  3. Faktor sekolah yang membantu terbentuknya sifat lahiriah.
  4. Faktor masyarakat dan lingkungan yang memberikan lingkungan empiris.
  5. Faktor kebudayaan umum masyarakat yang memberi corak kehidupan manusia.[6]

Tujuan pendidikan sebagai pernyataan keinginaan tentang hasil pendidikan adayang mencerminkan lingkup luas ada yang sempit. Tujuan yang mencerminkan lingkup, luas bersifat umum dan tujuan yang mencerminkan lingkup sempit bersifat khusus. Tujuan umum menggambarkan bentuk keperibadian siswa dalam wujud keseluruhan setelah menempuh pendidikan, sedangkan tujuan khusus merupakan jabaran tujuan umum yang menggambarkan cirri-ciri dari wujud pribadi keseluruhan itu. [7]

Mengajar adalah usaha guru memimpin muridnya keperubahan situasi dalam arti kemajuan dalam proses perkembangan intelek pada khususnya dan proses perkembangan jiwa, sikap, pribadi serta keterampilan pada umumnya. Seperti meningkatkan kecerdasan pada anak didik.

Pengertian, Tolak Ukur, dan Tingkatan Keberhasilan Belajar Mengajar Moh Uzer Usman dan Lilis Setyawati dalam buku Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar mengemukakan sebagai berikut. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filosofinya. [8]
Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah disempurnakan antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila TIK tersebut dapat tercapai. Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK, guru perlu mengadakan tes formatif setiap selesai menyajikan satu satuan bahasan kepada siswa.Indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil.

Dalam kegiatan mengajar di kelas keberadaan guru sebagai pemimpin sangat dibutuhkan dalam membina dan membimbing siswanya, karena pada dasarnya seorang guru adalah pemimpin yang dianggap mampu memberi perlindungan,bimbingan dan mengatur anggotanya.

Pemimpin adalah seorang pribadi yang kecakapan keahlian sehingga mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama malakukan aktifitas-aktifitas tertentu untuk mencapai suatu tujuan.

Secara umum definisi kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai berikut. “ kepemimpinan berarti kemampuan dan kesiapan yang mengajak, menuntun, menggerakan, mengarahkan, dan kalau perlu memaksa orang atau kelompok agar menerima pengaruh dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan”. [9]

Sekolah yang penulis teliti masih terdapat kelemahan pada perkembangan kecerdasan dan kreativitas siswanya, yang dapat dilihat dari kemampuan membaca, dan berhitung serta memahami pelajaran. Dalam perkembangan kreativitas tidak tampak menonjol dan kurang aktif dalam aktivitasa praktek belajar. Usia anak pada tingkat kelas VI sebenarnya sudah bias menunjukan cirri-ciri kompetensi dasarnya pada proses belajar.

Dalam hal ini IQ memiliki pengaruh dalam penyerapan informasi dan pengetahuan yang disampaikan oleh guru. Kehadiran anak disekolah secara tidak teratur menimbulkan pengaruh yang lebih besar terhadap IQ. Sebaliknya anak yangmendapat perlakuandisekolah secara teratur, maka akan mendapat kenaikan poin dari 10 hingga 30. [10]

Bertitik tolak dari permasalahan di atas, maka penulis berkeinginan untuk mengadakan penelitian dalam bentuk proposal yang membahas tentang“ kiat guru mengajar dalam meningkatkan kecerdasan dan kreativitas belajar siswa kelas VI di SD 08 Selatpanjang”.

Berdasarkan pengamatan awal ( studi pendahuluan ) dalam hal ini penulis menemukan gejala-gejala sebagai berikut :

1) Siswa masih banyak yang tidak bisa membaca dengan baik.

2) Siswa masih banyak yang tidak pandai berhitung.

3) Siswa tidak bias menerima pelajaran dengan baik.

4) Siswa sering mengalami kesulitan dalam menyerap pelajaran.

5) Siswa tidak rajin belajar membaca dan berhitung.

6) Siswa malas mengulangi pelajaran yang disampaikan.

7) Siswa tidak terlihat aktif serta kreatif dalam berkarya dibidang seni maupun olahraga

8) Siswa sering mengalami kelupaan dalam belajar dan sulit mengingat pelajaran.

B. Alasan Memilih Judul

Alasan peneliti memilih judul tersebut karena:

  1. Bahwa masalah yang akan dikaji penulis mampu untuk menelitinya.
  2. Lokasi penelitian terjangkau oleh peneliti

C. Penegasan Istilah

Penelitian ini berkenaan dengan istilah :

  1. Pengertian Mengajar

Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau system lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Kalau belajar dikatakan milik siswa, maka mengajar sebagai kegiatan guru.

Pengertian Mengajar Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa. [11]

“Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik”. [12]

“Mengajar sebagai suatu rangkaian kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran itu”. [13]

  1. Pengertian Guru

Guru adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran disekolah. Secar khusus guru adalah orang yang bertanggung jawab dalam membantu anak dalam mencapai kedewasaanya masing-masing. [14]

Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah dan orang yang berpengalaman dalm bidang profesinya. Guru dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas.

Guru adalah komponen manusia yang ikut berperan dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial dibidang pembangunan.

  1. Pengertian Kecerdasan

“Istilah kecerdasan itu diturunkan dari kata intelegensi, intelegensi suatu kata yang memiliki makna sangat abstrak”.[15]

“Intelegensi merupakan suatu kemampuan multiple, intelegensi dapat dijelaskan terminolgi pengetahuan dan penalaran”. [16]

“Intelegensi ialah kemampuan untuk memecahkan masalah”. [17]

  1. Pengertian Kreativitas

Kreativitas pada dasarnya merupakan suatu istilah yang mudah diucapakan dan sulit didefinisikan secara pasti, sehingga merupakan istilah yang ambligius. “Kreativitas menekankan pada upaya membuat sesuatu yang baru dan berbeda”.

“Kreativitas sering dianggap sama dengan intelegensi atau kecerdasan yang tinggiorang yang ber-IQ sangat tinggi itu disebut genius dan orang amam sering mengatakan orang jenius disebut sebagai orang kreatif”. [18]

  1. Pengertian Belajar

“Dalam pengertian yang umum atau populer, belajar adalah mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh dari seseorang yang lebih tahu atau yang sekarang ini dikenal sebagai guru”. [19]

Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman”. [20]

D. Permasalahan

Adapun permasalahan yang terdapat pada penelitian ini adalah :

“Kecerdasan dan kreativitas dalam aktivitas belajar siswa kelas VI di SD 08 masih rendah dan perlu ditingkatkan”.

1. Identifikasi Masalah

Sebagaimana yang telah dipaparkan dalam latarbelakang masalah bahwa persoalan pokok dalam kajian ini adalah “kiat guru mengajar dalam meningkatkan kecerdasan dan kreativitas belajar siswa kelas VI”. Dari persoalan-persoalan pokok tersebut, maka persoalan –persoalan yang mingitari kajian ini dapat di identifikasikan sebagai berikut :

1) Cara guru dalam mengajar harus memiliki variasai dan inovasi.

2) Kecerdasan atau kemampuan siswa dalam membaca serta berhitung masih kurang baik.

3) Guru perlu melatih siswa untuk rajin membaca

4) Siswa kurang aktif dan kreatif dalam aktivitas belajar.

5) Kecerdasan dan daya kreativitas belajar siswa perlu dibimbing.

6) Kemauan serta keseriusan siswa dalam mengulangi pelajaran perlu ditingkatkan.

7) Strategi, metode serta tehnik guru dalam mengajar harus sesuai dengan situasi daya tanggap siswa (respon siswa).

8) Siswa perlu dukungan motivasi agar lebih giat belajar guna meningkatkan kecerdasan dan kreativitasnya.

2. Pembatasan Masalah

Mengingat banyaknya persoalan dalam kajian ini, untuk itu penulis hanya memfokuskan pada pokok bahasan tentang kiat mengajar guru dalam meningkatkan kecerdasan dan kreativitas belajar siswa.

3. Rumusan Masalah

1) Bagaimana kiat guru dalam mengajar untuk meningkatkan kecerdasan dan kreativitas belajar siswa kelas VI di SD 08 Selatpanjang ?

E. Tujuan dan Kegunaan

1. Tujuan

Tujuan penulisan proposal ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan secara ilmiyah dan sistematis tentang :

  • Kiat guru dalam mengajar
  • Kecerdasan dan kreativitas belajar siswa
  • Untuk mengetahui exsitensi guru dalam meningkatkan kecerdasan dan kreativitas belajar di SD 08 Selatpanjang.

2. Kegunaan

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk:

  • Sebagai informasi bagi guru yang mengajar
  • Sebagai pengembangan wawasan keilmuan bagi penulis dalam bidang pendidikan yang berkaitan karya ilmiyah.
  • Penelitian ini merupakan pengalaman yang berharga yang dapat dijadikan sebagai bekal bagi penelit..

F. Kerangka Teoritis dan Konsep Operasional

1. Kerangka Teoritis

a) Pengertian Mengajar

Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau system lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Kalau belajar dikatakan milik siswa, maka mengajar sebagai kegiatan guru.

“Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada anak didik”. [21]

Tugas dan tangung jawab guru sebagai pendidik adalah membantu dan membimbing siswa mencapai kedewasaan seluruh ranah kejiwaan sesuai kreteria yang telah ditetapkan , baik kreteria institusional maupun konstitusional. Untuk dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya itu, guru berkewajiban merealisasikan upaya yang mengarah kepada pengertian membantu dan membimbing siswa dalam melapangkan jalan menuju perubahan positif seluruh ranah kejiwaannya. Dalam hal ini, kegiatan nyata yang paling utama dalam memberi bantuan dan bimbingan itu adalah mengajar. [22]

b) Kompetensi yang Harus Dimiliki Guru Dalam Mengajar

“Mengenai kompetensi guru ada sepuluh profil kemampuan dasar bagi seorang guru”

1. menguasai bahan

2. mengelola program balajar mengajar

3. mengelola kelas

4. menggunakan media

5. menguasai landasan-landasan kependidikan

6. mengelola interaksi belajar mengajar

7. menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran

8. mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyulihan disekolah

9. mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah

10. memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikanguna keperluan pengajaran”.[23]

c) Prinsip-prinsip Umum Tentang Mengajar

Prinsip-prinsip umum yang harus dijadikan pegangan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar adalah sebagai berikut :

1. mengajar harus berdasarkan pengalaman yang dimiliki siswa.

2. pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis.

3. mengajar harus memperhatikan setiap perbedaan individu siswa.

4. kesiapan dalam belajar sangat pentimg dijadikan landasan dalam mengajar.

5. tujuan pengajaran harus diketahui siswa.

6. mengajar harus mengikuti prinsip psikologis tentang belajar. Para ahli merumuskan prinsip, bahwa belajar itu harus bertahap dan meningkat. Oleh karena itu, dalam mengajar haruslah menyiapkan bahan yang bersifat gradual, yaitu :

a. dari sederhana kepada yang kompleks

b.dari konkret kepada yang abstrak

c. dari umum kepada yang kompleks

d. dari yang sudah diketahui kepada yang belum diketahui.

7. dengan menggunakan prinsip induksi kepada deduksi atau sebaliknya.

8. sering menggunakan penguatan. [24]

d) Strategi Mengajar

Dalam prespektif psikologi, kata strategi yang berasal dari bahasa Yunani itu, berarti rencana atau tindakan yang terdiri dari seperangkat langkah untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan. Strategi dapat dikatakan sebagai cara atau tehnik. Adapun contoh strategi mengajar yaitu :

· Strategi Mengajar SPELT

Dalam dunia perndidikan dan pengajaran modren terdapat cukup banyak strategi yang dirancang untuk mengajar dengan materi tertentu hingga mencapai kecakapan yang diinginkan.

Strategi Program For Evektif Learning/Teacing. Sesuai dengan namanya, strategi SPELT tadi sengaja direkayasa untuk memperbaiki dan meningkatkan keefektivan belajar dan berfikir siswa. [25]

e) Pengertian Kecerdasan

“Istilah kecerdasan itu diturunkan dari kata intelegensi, intelegensi suatu kata yang memiliki makna sangat abstrak”.[26]

“Intelegensi merupakan suatu kemampuan multiple, intelegensi dapat dijelaskan terminolgi pengetahuan dan penalaran”. [27]

Berdasarkan rumusan-rumusan tersebut diatas , maka dapatlah dikemukakan bahwa secara umum kecerdasan ( intelegensi) dapat didefinisikan sebagai suatu konsep abstrak yang diukur secara tidak langsung oleh para ahli psikologi melalui tes intelgensi untuk mengestimasi proses intelektual. Adapun komponen utama intelegensi, yaitu kemampuan verbal, keterampilan pemecahan masalah, kemampuan belajar dan kemampuan beradaptasi dengan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. [28]

f) Faktor Kecerdasan Dalam Belajar

Pada dasarnya kemampuan manusia dapat dibedakan atas kemampuan intelektual dan non-intelektual. Demikian juga kemampuan intelektual ada yang bersifat potensial dan actual. Kemampuan intelektual potensial dipersentasikan dengan kecerdasan atau intelegensi, sedangkan kemampuan intrlektual sering digambarkan dengan prestasi belajar.

Bila ditelaah lebih jauh, prestasi belajar berkaitan erat dengan kecerdasan ( intelegensi), bahkan prestasi belajar sangat ditentukan ileh faktor kecerdasan.

Tylor ( 1974 ) menegaskan bahwa kecerdasan seharusnya tidak didefinisikan sebagai kemamapuan belajar umum, melainkan kecerdasan itu secarajelas berkaitan dengan keberhasilan sekolah dan berbagai jenis prestasi hidup yang tergantung pada pendidikan).

Henderson dkk ( 1976 ) melalui studinya berkesimpulan bahwa kecerdasan berkorelasi positif dengan prestasi belajar.

Berdasarkan uraian tersebut diatas kiranya dapat ditegaskan lagi bahwa factor kecerdasan dapat berperan sebagai predicator yang berarti terhadap belajar dan prestasi belajar anak.

Walaupun IQ berkontribusi terhadap prestasi belajar, factor kecerdasdan bukanlah satu-satunya factor uang sangat menentukan keberhasilan belajar anak, karena hubungan keduanya sangatlah kompleks, bahkan sangat sitentukan oleh berbagai factor lainnya, misalnya motivadi dan karakteristik keperibadianya. [29]

g) Pengertian Kreatifitas

Kreativitas pada dasarnya merupakan suatu istilah yang mudah diucapakan dan sulit didefinisikan secara pasti, sehingga merupakan istilah yang ambligius. “Kreativitas menekankan pada upaya membuat sesuatu yang baru dan berbeda”.

“Kreativitas sering dianggap sama dengan intelegensi atau kecerdasan yang tinggiorang yang ber-IQ sangat tinggi itu disebut genius dan orang amam sering mengatakan orang jenius disebut sebagai orang kreatif”. [30]

“Secara umum kreatifitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk berfikir tentang sesuatu dengan suatu cara yang baru dan tidak biasa dan menghasilkan penyelesaian yang unik terhadap berbagai persoalan”. [31]

h) Teori Kreativitas

Teori kreativitas diketengahkan oleh Gowan (1972) mengelompokan kelima katagori dalam memilih setiap katagori menjadi beberapa subkatagori. Kelima katagori itu diantaranya pertama, kognitif, rasional, dan semantik yang mencangkup problem sloving, kemampuan kognitif, dan asosiatif.

Kedua, factor-faktor keperibadian dan lingkungan yang menyangkut trait transaktualisasi. Ketiga, kesehatan mental dan penyesuaian psikologis yang mencangkup aktaulisasi diri – realisasi diri – pertumbuhan psikologis dan mekanisme pertumbuhan psikologis dan pribadi. Keempat, psikoanalitik psikodinamik.

Yang terahir adalah teori Barbara Clark memandang bahwa untuk mengetahui hakekat kreativitas dapat dilihat fungsi kedua belahan otak, yaitu fungsi otak belahan kiri dan fungsi otak belahan kanan. [32]

i) Factor Kreativitas dan Perkembanganya

Menyadari akan posisi strategis kreativitas dalam kehidupan anak, maka kiranaya selanjutnya perlu dikemukakan bebbagai upaya yang dapat memelihara dan mendukung perkembangan kreativitas.

Pertama, sikap sosial yang tidak menyenangkan, sehingga menghalangi perkembangan kreativitas harus dikurangi dan dihilangkan.

Kedua, menciptakan kondisi-kondisi yang menyenangkan bagi perkembangan kreativitas anak sejak usia dini dalam kehidupannya, hingga mereka mencapai usia-usia puncak perkembangannya.

Ketiga, anak-anak harus tetap didorong untuk kreatif dan bebas dari kritik-kritik yang merugikan anak.

Keempat, bahan-bahan dan materi yang diberikan kepadanya hendaknya memberikan simulasi anak untuk melakukan eksperimen dan ekspolerasi yang memungkinkan dapat mengembangkan kreativitasnya.

Kelima, lingkungan keluarga dan sekolah seyogyanya mampu menstimulasi kreativitas anak dengan memberikan bimbingan dan dorongan menggunakan bahan-bahan yang tersedia yang pada akhirnya dapat mendorong kreativitas anak. [33]

j) Pengertian Belajar

“Dalam pengertian yang umum atau popular, belajar adalah mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Pengetahuan tersebut diperolaeh dari seseorang yang lebih tahu atau yang sekarang ini dikenal sebagai guru”. [34]

Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman”. [35]

Pengertian Belajar Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. [36]

Penulis Psikologi Pendidikan (1993: 60) ringkasnya mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.Siswa mengalami suatu proses belajar. [37]

Dalam proses belajar tesebut, siswa menggunakan kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. Kemampuan-kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang dibelajarkan dengan bahan belajar menjadi semakin rinci dan menguat. Adanya informasi tentang sasaran belajar, adanya penguatan-penguatan, adanya evaluasi dan keberhasilan belajar, menyebaban siswa semakin sadar, akan kemampuan.

Dari ketiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu tindakan sadar yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan dalam diri mereka atas stimulasi lingkungan dan proses mental mereka sehingga bertambah pengetahuannya.

k) Tujuan Belajar

Mengenai tujuan belajar itu sangat banyak dan bervariasi, kalau dirangkum dan ditinjau secara umum, maka tujuan belajar ada tiga jenis yaitu :

1. untuk mendapatkan pengetahuan

hal ini ditandai dengan kemampuan berfikir. Pemiliikan pengetahuan dan kemampuan berfikir sebagai yang tidak dapat dipisahkan. Dengan kata lain, tidak dapat mengembangkan kemampuan berfikir tanpa bahan pengetahuan, sebaliknya kemampuan berfiker akan memperkaya pengetahuan. Tujuan inilah yang memiliki kecenderungan lebih besar perkembanganya dalam kegiatan belajar. Dalam hali ini peran guru sebagai pengajar lebih menonjol.

2. penanaman konsep dan keterampilan

penanaman atau merumuskan suatu konsep , juga memerlukan suatu keterampilan. Jadi soal keterampilan yang bersifat jasmani ataupun rohani. Ketrampilan jasmaniah adalah keterampilan yang dapat dilihat, diamati, sehingga akal meniyik beratkan padaketerammmmmmmmpilan gerak/penampilan anggota tubuh seseorang yang sedang belajar. Termasuk dalam hal ini masalah –masalah “tehnik” dan “pengulangan” . sedangkan keterampilan rohani lebih rumit, karena tidak selalu berurusan dengan masalah-masalah yang dapat dilihat bagaimana ujung pangkalnya, tetapi lebih abstrak, menyangkut persoalan-persoalan penghayatan, dan keterampilan berfikir serta kreatifitas untuk menyelesaian, merumuskan suatu masalah atau konsep.

3. pembentukan sikap

Pembentukan sikap mental dan prilaku anak didik, tidak akan telepas dari soal penanaman nilai-nilai, transfer of value. Oleh karena itu, guru tidak sekedar pengajar tetapi betul-betul sebagai pendidik yang memindahkan nilai-nilai itu kepada anak didiknya. Dengan dilandasi nilai-nilai itu, anak didik/siswa akan kesadaran dan kemauannya., untuk memperaktikan segala sesuatu yang telah dipelajarinya.

Jadi pada intinya, tujuan belajar itu adalah ingin mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan penanaman sikap, mental, nilai-nillai. Pencapaian tujuan belajar berarti akan menghasilkan nilai belajar. [38]

l) Tingkat Keberhasilan Belajar

Untuk mengetahui sampai dimana tingkat keberhasilan belajar siswa terhadap proses belajar yang telah dilakukannya dan sekaligus juga untuk mengetahui keberhasilan mengajar guru, kita dapat menggunakan tingkat acuan sebagai berikut:

1. Istimewa / maksimal: apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai siswa.

2. Baik sekali/optimal: apabila sebagian besar (85% s/d 94%) bahan pelajaranyang diajarkan dapat ikuasai oleh siswa.

3. Baik / minimal: apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 75% s/d 84% dikuasai siswa.

4. Kurang : apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 75% dikuasai siswa.

Proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa atau unjuk kerja siswa . [39]

m) Faktor –faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar Mengajar

Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan tersebut adalah :

1. Tujuan
Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.
Perumusan tujuan menentukan kepastian dari perjalanan proses belajar mengajar Guru diwajibkan untuk merumuskan tujuan pembelajarannya agar dapat tercapai sasaran dalam setiap kegiatan belajar mengajar.. dan dirumuskan dalah TIK ( Tujuan Instruksional Khusus) sedangkan TIU (Tujuan Instruksional Umum ) yang sudah tersedia didalam GBPP.
TIK harus dirumuskan secara operasional dengan memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu :

· Secara spesifik harus menyatakan prilaku yang akan dicapai.

· Membatasi dalam keadaan mana perubahan perilaku diharapkan dapat terjadi (kondisi prilaku).

· Menyatakan kreteria prilaku secara sepasifik, artinya menggambarkan standar minimal perilaku yang dapat diterima sebagai hasil yang dicapai.

TIK adalah wakil dari TIU, maka perbuatan TIK harus berpedoman pada TIU. Indikator suatu TIU banyak namun handaknya dipilih yang betul-betul penting sehingga dapat mewakili TIU.

2. Guru

Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah dan orang yang berpengalaman dalm bidang profesinya. Guru dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas.

Ada beberapa aspek yang menentukan keberhasilan guru dalam proses belajar yaitu :

· Keperibadian

Hal ini akan mempengaruhi pola kepemimpinan yang guru perlihatkan ketika melaksanakan tugas didalam kelas.

· Pandangan terhadap anak didik
Proses belajar dari guru yang memandang anak didik sebagai mahluk individual dengan yang memiliki pandangan anak didik sebagai mahluk sosial akan berbeda. Karena prosesnya berbeda, hasil proses belajarnya pun akan berbeda.

· Latar belakang dan pengalaman guru

Guru pemula dengan latar belakang pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah, karena ia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pendukung pengabdiannya.

Tingkat kesulitan yang ditemukan guru semakin berkurangpengalamannya.
Guru yang bukan berlatar belakang pendidikan keguruan dan ditambah tidak berpengalaman mengajar , akan banyak menemukan masalah dikelas. Oleh sebab itu, untuk menjembatinya dibuat program Akta 4 dan Akta 5.

3. Anak Didik
Adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah. Orang tuanya memepercayakan guru untuk mendididik mereka agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan di kemudian hari.

Aspek dari anak didik yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar adalah:

· Psikologis anak didik

· Biologis anak didk

· Intelektual anak didik

· Kesenangan terhadap pelajaran. [40]

4. Kegiatan Pengajaran
Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan pelajaran sebagai perantaranya. Guru yang mengajar, anak didik yang belajar.. Gaya mengajar guru mempengaruhi gaya belajar anak didik.

Gaya mengajar menurut Muhammad Ali dapat dibedakan 4 macam yaitu :

· Gaya mengajar klasik

· Gaya mengajar teknologis

· Gaya mengajar personalisasi

· Gaya mengajar interaksional

Ada 3 aspek yang dapat dilihat dari kegiatan pengajaran untuk keberhasilan belajar mengajar yaitu:

1) Pendekatan Guru
Pendekatan individual, Guru berusaha memahami anak didik dengan segala persamaan dan perbedaanya.

Pendekatan kelompok, guru berusah memahami anak didik sebagai mahluk sosial
Perpaduan kedua pendekatan ini akan menghasilkan hasil belajar mengajar yang lebih baik

2) Strategi Penggunaan Metode

Penggunaan strategi belajar dapat digunakan lebih dari 1 metode pengajaran misalnya penggunaan metode Ceramah dengan metode Tanya jawab untuk mata pelajaan IPS.

Jarang guru menggunakan 1metode dalam melaksanakan pengajaran, hal ini disebabkan rumusan tujuan yang dibuat guru tidak hanya satu, tetapi bisa lebih dari dua rumusan. Dari penjelasan diatas, diketahui kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh guru mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar.

5. Bahan Dan Alat Evaluasi

Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat didalam kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan. Bahan pelajaran biasanya sudah dikemas dalam bentuk buku paket.
Ada waktu yang harus ditempuh dalam menyelesaikan buku paket tersebut misalnya 1 semester , dan kemudian guru akan membuat item-item soal evaluasi dengan perencanaan yang sistemastis dan dengan penggunaan alat evaluasi.

Alat evaluasi yang umum digunakan adalah:

· Benar - Salah

· Pilihan Ganda

· Menjodohkan

· Melengkapi

· Essay

Masing – masing alat evaluasi itu mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan, oleh sebab itu guru sudah menggabungkan lebih dari satu alat evaluasi.

Benar Salah dan Pilihan Ganda adalah bagian dari tes objectif artinya objektif dalam hal pengoreksian tapi belum tentu objektif dalam jawaban yang dilakukan anak didik, Karena sifat alat ini mengharuskan anak didik memilih jawaban yang sudah disediakan dan tidak ada alternatif lain diluar alternatif itu, maka bila anak didik tidak bisa menjawab dia cenderung melakukan tindakan spekulasi, pengambilan sikap untung – untungan daripada tidak diisi.
Pembuatan item soal dengan memakai alat tes objektif dapat menampung hampir semua bahan pelajaran yang sudah dipelajari oleh anak didik dalam satu semester. Kelmahannya terletak pada pengusaan anak didik terhadap bahan pelajaran bersifat semu atau samara-samar.
Alat tes dalam bentuk essay dapat mengurangi sikap dan tindakan spekulasi pada anak didik sebab alat tes ini hanya dapat dikjawab bila anak didik betul-betul menguasai bahan pelajaran dengan baik.Untuk tes objektif mempunyai rumus penilaian masing-masing, Jadi kesanalah rujukan standar penilaian itu, bukan membuat rumus penilaian yang cenderung mendatangkan sikap dan tindakan spekulatif pada anak didik

Berbagai permasalahan yang telah diuraikan tersebut mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Bila alat tes itu tidak valid dan tidak reliable , maka tidak dapat dipercaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar mengajar.

6. Suasana Evaluasi

Faktor suasana evaluasi merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Hal yang perlu dilakukan dalam suasana evaluasi adalah:

· Pelaksanaan evaluasi dilaksanakan didalam ruang kelas.

· Semua murid dibagi sesuai tingkatan masing-masing.

· Besar sedikitnya anak didik didalam kelas.

· Besar berlaku jujur , baik guru maupun anak didik selama evaluasi tersebut. [41]

G. Konsep Operasional

Pada penjelasan diatas kajian ini berkenaan dengan kiat guru mengajar dalam meningkatkan kecerdasan dan kreativitas belajar siswa.. Variable penelitian ini adalah kiat guru meningkatkan kecerdasan dan kreativitas belajar siswa.

Berdasarkan konsep diatas yang dimaksud dengan kiat mengajar dalam meningkatkan kecerdasan dan kreativitas adalah Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Kecerdasan merupakan kemampuan berfikir atau intelegensi, sedangkan kreatifitas adalah pengermbangan dari kognitif intelegensi.

Penelitian ini memekankan pada peningkatan kecerdasan dan kreativitas siswa kelas VI.

Indikator kiat guru mengajar dalam meningkatkan kecerdasan dan kreativitas belajar siswa adalah :

1) Guru berusaha meningkatkan kecerdasan dan kreativitas belajar siswa.

2) Guru memotivasi siswa supaya rajin belajar.

3) Guru berusaha menumbuhkan kemauan siswa dalam belajar dan mengulangi pelajaran yang disampaikan disekolah.

4) Guru membimbing siswa untuk rajin membaca dan belajar berhitung dengan baik.

5) Guru bias meningkatkan aktivitas belajar siswa

6) Cara guru dalam mengajar dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa.

7) Kecerdasan siswa dapat ditingkatkan melalui bimbingan dan tehnik guru dalam mengajar.

8) Guru lebih banyak menggunakan bahasa dan gaya anak dalam mengajar untuk mempermudah siswa merespon pelajaran.

H. Metode Penelitian

A. Lokasi Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendapat gambaran dan informasi yang lebih jelas, lengkap, serta memungkinkan dan mudah bagi peneliti untuk melakukan penelitian observasi.

Penelitian ini Berlokasi di SD 08 Selatpanjang. Pemilihan lokasi didasari atas alasan bahwa persoalaan– persoalaan akan diteliti dapat ditemukan disekolah tersebut.

B. Objek dan Subjek Penelitian

Objek penelitian adalah meningkatkan kecerdasan dan kreativitas belajar

Subjek dari penelitian ini adalah guru dan siswa.

C. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah guru yang mengajar dikelas VI SD 08 Selatpanjang, yang mengajar bidng studi Bahasa Indonesia, Matematika, Kesenian.

Jumlah guru kelas VI yang mengajar bidang studi tersebut adalah sebanyak 3 0rang. Karena jumlah populasi sedikit maka peneliti tidak menarik sample.

D. Tehnik Pengumpulan Data

Dalam mengumpulkan data dilapangan peneliti menggunakan tehnik observasi dan wawancara.

a) Observasi

Observasi adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki.

b) Wawancara

Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan yang mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan dari informan atau sumber informasi.[42]

E. Analisis Data

Sehubungan dengan rumusan masalah yang dikemukakan maka metode analisis data dan pengolahan data adalah metode deskriftif, yaitu dengan menguraikan dengan keadaan yang sebenarnya kemudian dihubungkan dengan teori-teori yang mendukung permasalahan tersebut yang diperoleh dari studi perpustakaan, mengklasifikasikan, menganalisis dan menginterprestasikan sehingga dapat diteliti dengan teori yang ada. [43]

Seluruh data dari informan, baik melalui observasi, interview, angket dicatat secara secermat mungkin dan dikumpulkan menjadi suatu catatan lapangan atau field notes semua data itu kemudian dianalisis secara kualitatif.

F. Sistematika Penulisan

Bab I pendahuluan yang terdiri dari : latarbelakang masalah, alasan memilih judul, penegasan istilah, permasalahan ( identifikasi, batasan dan rumusan masalah ), tujuan penelitian kegunaan penelitian, konsep operasional.

Bab II tinjauan teori yang memaparkan tantang : pengertian mengajar, kopetensi guru dalam mengajar, prinsip-prinsip umum tentang mengajar, strategi mengajar, pengertian kecerdasan, factor kecerdadsan dalam belajar dan perkembangan anak, pengertian kreativitas, teori kreativitas, factor kreativitas dan perkembangannya , pengertian belajar, tujuan belajar. Tingkat keberhasilan belajar, factor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar.

Bab III metode penelitian yang mencangkup : lokasi penelitian, objek dan subjek penelitian populasi dan sampel, tehnik pengumpulan data dan tehnik analisis data.

Bab IV temuan hasil penelitian dan pembahasan yang terdiri dari deskripsi secara umum SD 08 Selatpanjang, yang mencangkup tentang : profil sekolah , profil kepala sekolah, visi dan misi sekolah, , serana dan prasarana sekolah, struktur organisasi sekolah. Pembahasan ( pembahasasn mengenai temuan hasil penelitian sesuai dengan rumusan masalah dan analisis pembahasan )

Bab V kesimpulan dan saran



DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ali Syari’ati, (1982). Sosiologi Islam, Yogyakarta: Ananda.

Azhari Zakri, (2003). Belajar dan Pembelajaran, Pekanbaru : Yayasan

Obor Desa.

Dalyono,( 2001). Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rienka Cipta.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNRI Pekanbaru, (2004).Perkembangan Belajar Peserta Didik. Pekanbaru : UNRI.

Hamzah B. Uno, (2006). Perencanaan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara.

Joesmana,(1988).Pengukuran dan Evaluasi Dalam Pengajaran. Jakarta: Depdikbud.

Lukman Hakim, (2004). Perencannan Pembelajaran, Bandung : Wacana Prima.

Mas’ ud Zein, Tohirin, Risnawati, (2007). Modul Diklat ; Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Moh Uzer Usman dan Lilis SEtiawati, ( 1993). Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarta.

Muhibin Syah, (2003). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung : Remaja Rosdakarya.

Ramayulis dan Samsul Nizar, (2009). Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia.

Roestiyah N. K, (2002). Strategi Belajar Mengajar, Jakatra: Rhineka Cipta.

Sardiman. (2004), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Sudarsono, (1995). Kenakalan Remaja, Jakarta: Rienka Cipta.

Sutaryadi, (1990). Administarsi Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional.

Suyanto,(1991).Elaborasi Aspek Afektif Untuk Kegiatan Belajar Mengajar,

Yogyakarta : Kanisius.

Syaiful Bahri Djamara dan Aswan Zain, (2006). Strategi Belajar Mengajar, Jakarta :Rineka Cipta.

Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, 2009. Manajemen Pendidikan, Bandung : Alfabeta.




[1] Suyanto, Elaborasi Aspek Afektif Untuk Kegiatan Belajar Mengajar. Artikel dalam Cakrawala Pendidikan. Yogyakarta : Kanisius, 1991. hal : 27

[2] Joesmana, Pengukuran dan Evaluasi Dalam Pengajaran. Jakarta: Depdikbud, 1988. Hal : 18

[3] Dalyono, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rienka Cipta, 2001. hlm : 6

[4] Sudarsono, Kenakalan Remaja, Jakarta: Rienka Cipta, 1995. hlm : 128

[5] Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2003. hlm :181

[6] Ali Syari’ati, Sosiologi Islam, Yogyakarta: Ananda, 1982. hlm: 63-64.

[7] Lukman Hakim, Perencannan Pembelajaran, Bandung : Wacana Prima, 2004. hlm: 91

[8] Moh Uzer Usman dan Lilis SEtiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarta, 1993. hlm : 7-8

[9] Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Manajemen Pendidikan Bandung : Alfabeta, 2009. hlm :125

[10] Fakultas Keguruan dan Pendidikan UNRI Pekanbaru. Perkembangan Belajar Peserta Didik, Pekanbaru : UNRI, 2004. hlm: 39

[11] Moh Uzer Usman dan Lilis SEtiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarta, 1993. hlm : 5

[12] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004. hlm : 47

[13] Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2003. hlm :181

[14] Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2009. hlm : 138

[15] Fakultas Keguruan dan Pendidikan UNRI Pekanbaru. Perkembangan Belajar Peserta Didik, Pekanbaru : UNRI, 2004. hlm: 34

[16] Ibid. , hlm : 34

[17] Dalyono, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rienka Cipta, 2001. hlm : 184

[18] Op. Cit. ,hlm : 39

[19] Azhari Zakri, Belajar dan Pembelajaran, Pekanbaru : Yayasan Obor Desa, 2003. hlm: 2

[20] Ibid. , hlm: 3

[21] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004. hlm : 47

[22] Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2003. hlm :181

[23] Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004. hlm : 164

[24] Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2006. hlm : 7

[25] Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2003. hlm 214

[26] Fakultas Keguruan dan Pendidikan UNRI Pekanbaru. Perkembangan Belajar Peserta Didik, Pekanbaru : UNRI, 2004. hlm: 34

[27] Ibid. , hlm : 34

[28] Ibid. , hlm :35

[29] Ibid. , hlm : 37-38

[30] Op. Cit. ,hlm : 39

[31] Ibid. , Fakultas Keguruan dan Pendidikan UNRI Pekanbaru, hlm: 40

[32] Ibid. , hlm : 41

[33] [33] Ibid. , Fakultas Keguruan dan Pendidikan UNRI Pekanbaru, hlm: 44 - 45

[34] Azhari Zakri, Belajar dan Pembelajaran, Pekanbaru : Yayasan Obor Desa, 2003. hlm: 2

[35] Ibid. , hlm: 3

[36] Moh Uzer Usman dan Lilis SEtiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarta, 1993. hlm: 23

[37] Ibid. , hlm : 60

[38] Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004. hlm : 26

[39] Roestiyah N. K, Strategi Belajar Mengajar, Jakatra: Rhineka Cipta, 2002. hlm:34

[41] Syaiful Bahri Djamara dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta :Rineka Cipta, 2006. hlm : 59

[42] Mas’ ud Zein, Tohirin, Risnawati, Modul Diklat ; Penelitian Tindakan Kelas dan Penulisan Karya Ilmiah, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2007. hlm: 22

[43] Ibid. , hlm : 55

3 komentar:

kak zepe mengatakan...

Selama ini keterbatasan financial banyak menjadi kendala beberapa pendidik pendidik TK dan Paud untuk mengembangkan sekolahnya. Namun ternyata ada beberapa pendidik anak usia dini yang bisa mensiasati kendala tersebut. Kebanyakan dari mereka berprinsip,”Bila ada usaha pasti ada jalan”, dan ada pula yang bersemboyan,”Kreatifitas akan muncul dalam situasi kepepet”.
Saya telah mencoba mendiskusikan hal ini dengan beberapa penndidik anak usia dini yang memiliki PAUD atau TK yang sederhana. Justru di dalam diri mereka banyak yang memiliki kreatifitas yang tinggi dan lebih bisa melakukan pekerjaan mereka dengan hati. Dari beberapa masukan saya mendapatkan tiga cirri khas atau keistimewaan yang paling penting. Keistimewaan tersebuat antara lain.


1. Kekeluargaan
Sifat kekeluargaan biasanya menjadi satu kekuatan bagi para pendidik Paud yang sederhana. Mereka akan lebih mengutamakan kekompakan anatara pendidik yang satu dengan pendidik yang lain. Batas antara kepala sekolah dan guru hampir tidak ada, sehingga dari situ muncul keterbukaan. Dan dari keterbukaan inilah akan muncul ide-ide kreatif, yang akan dikembangkan secara bersama menjadi sebuah keistimewaan dan bisa membangun sebuah cirri khas dari Paud atau TK yang didirikan. Sikap kekeluargaan ini tidak hanya ada antara guru dengan guru, atau guru dengan kepala sekolah (kepala sekolah), namun juga akan menular kepada hubungan guru dengan orang tua. Banyak sekali sekolah yang kurang memiliki faktor ini di sekolah mereka. Biasanya malah ada jarak antara guru dan orang tua, demi menjaga nama baik guru itu sendiri dan nama baik sekolah. Namun di sebuah Paud / TK yang kecil dan sederhana, biasanya hal ini justru menjadi suatu kelebihan bagi mereka. Para pendidik bisa lebih akrab dengan orang tua, tanpa takut gengsi mereka akan turun atau nama baik mereka akan tercemar, karena suatu kesalahan. Dan dengan keakraban dan keterbukaan inilah, pihak orang tua dan guru bisa saling belajar dalam membangun anak didik agar mereka tidak hanya pandai dalam akademis, melainkan juga memiliki moral dan akhlak yang baik dan mulia.

2. Kreatif
Sekolah yang tidak memiliki keterbatasan financial, biasanya akan langsung memanfaatkan peralatan yang ada dan sudah tersedia di sekolah. Sehingga guru kurang terlatih untuk mengembangkan kreatifitas. Dari pelajaran yang saya dapat lewat sebuah diskusi, para pendidik yang bekerja di PAUD dan TK yang sederhana, biasanya lebih kreatif dalam memanfaatkan alam sekitar, misalnya memanfaatkan kebun jagung, memanfaatkan daun-daunan, hewan-hewan kecil, sehingga selain ilmu yang mereka ajarkan, para pendidik juga bisa mengajarkan pentingnya menghargai alam ciptaan Tuhan dan mensyukurinya. (Kak Zepe)

Sebenarnya mash ada 3 poin lagi. Yaitu Moral, Prestasi Non-akademis, dan Jaringan…
Hmm… apa itu ya? Kalau penasaran klik saja link di bawah ini:
http://lagu2anak.blogspot.com/2010/11/cara-paud-dan-tk-sederhana-mensiasati.html

kak zepe mengatakan...

Selama ini keterbatasan financial banyak menjadi kendala beberapa pendidik pendidik TK dan Paud untuk mengembangkan sekolahnya. Namun ternyata ada beberapa pendidik anak usia dini yang bisa mensiasati kendala tersebut. Kebanyakan dari mereka berprinsip,”Bila ada usaha pasti ada jalan”, dan ada pula yang bersemboyan,”Kreatifitas akan muncul dalam situasi kepepet”.
Saya telah mencoba mendiskusikan hal ini dengan beberapa penndidik anak usia dini yang memiliki PAUD atau TK yang sederhana. Justru di dalam diri mereka banyak yang memiliki kreatifitas yang tinggi dan lebih bisa melakukan pekerjaan mereka dengan hati. Dari beberapa masukan saya mendapatkan tiga cirri khas atau keistimewaan yang paling penting. Keistimewaan tersebuat antara lain.


1. Kekeluargaan
Sifat kekeluargaan biasanya menjadi satu kekuatan bagi para pendidik Paud yang sederhana. Mereka akan lebih mengutamakan kekompakan anatara pendidik yang satu dengan pendidik yang lain. Batas antara kepala sekolah dan guru hampir tidak ada, sehingga dari situ muncul keterbukaan. Dan dari keterbukaan inilah akan muncul ide-ide kreatif, yang akan dikembangkan secara bersama menjadi sebuah keistimewaan dan bisa membangun sebuah cirri khas dari Paud atau TK yang didirikan. Sikap kekeluargaan ini tidak hanya ada antara guru dengan guru, atau guru dengan kepala sekolah (kepala sekolah), namun juga akan menular kepada hubungan guru dengan orang tua. Banyak sekali sekolah yang kurang memiliki faktor ini di sekolah mereka. Biasanya malah ada jarak antara guru dan orang tua, demi menjaga nama baik guru itu sendiri dan nama baik sekolah. Namun di sebuah Paud / TK yang kecil dan sederhana, biasanya hal ini justru menjadi suatu kelebihan bagi mereka. Para pendidik bisa lebih akrab dengan orang tua, tanpa takut gengsi mereka akan turun atau nama baik mereka akan tercemar, karena suatu kesalahan. Dan dengan keakraban dan keterbukaan inilah, pihak orang tua dan guru bisa saling belajar dalam membangun anak didik agar mereka tidak hanya pandai dalam akademis, melainkan juga memiliki moral dan akhlak yang baik dan mulia.

2. Kreatif
Sekolah yang tidak memiliki keterbatasan financial, biasanya akan langsung memanfaatkan peralatan yang ada dan sudah tersedia di sekolah. Sehingga guru kurang terlatih untuk mengembangkan kreatifitas. Dari pelajaran yang saya dapat lewat sebuah diskusi, para pendidik yang bekerja di PAUD dan TK yang sederhana, biasanya lebih kreatif dalam memanfaatkan alam sekitar, misalnya memanfaatkan kebun jagung, memanfaatkan daun-daunan, hewan-hewan kecil, sehingga selain ilmu yang mereka ajarkan, para pendidik juga bisa mengajarkan pentingnya menghargai alam ciptaan Tuhan dan mensyukurinya. (Kak Zepe)

Sebenarnya mash ada 3 poin lagi. Yaitu Moral, Prestasi Non-akademis, dan Jaringan…
Hmm… apa itu ya? Kalau penasaran klik saja link di bawah ini:
http://lagu2anak.blogspot.com/2010/11/cara-paud-dan-tk-sederhana-mensiasati.html
,,..

DARUSMAN AJI S.Pd.I mengatakan...

OKE TERIMAKASIH ATAS INFO ANDA

Posting Komentar